Berita

Tantangan Riset Digital Masa Pandemi: Penelitian Limbah Medis COVID-19 di DKI Jakarta

Di awal pandemi COVID-19 terjadi di Indonesia, hampir seluruh sektor kehidupan berhenti. Dunia kerja gagap menghadapi realitas yang membatasi mobilitas harian, termasuk kegiatan penelitian. Akan tetapi, komunitas peneliti tidak menyerah begitu saja. Di tengah wabah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka wawasan khususnya bagi para peneliti sosial humaniora, bahwa penelitian masih dapat berjalan dengan memanfaatkan metode digital (webinar LIPI 25/6/2020).

Berangkat dari pemaparan LIPI, maka para peneliti Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) mengusulkan kegiatan penelitian terkait pengelolaan limbah medis pasien COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta dengan menggunakan metode digital. Dari empat metode yang disampaikan LIPI: digital ethnography, digital focus group discussion (FGD), web survey, dan big data retrieval, P3KLL mencoba dua metode terakhir. Langkah pertama adalah pengumpulan data rumah sakit (RS) rujukan COVID-19 dan bobot limbah bahan berbahaya dan beracun (LB3) medis, khusus infeksius (kode A337-1), dari aplikasi yang dimiliki Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kesehatan, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (big data retrieval). Tantangan yang dihadapi adalah data bersifat sekunder dan berkembang fluktuatif dalam hitungan hari. Perolehan data sementara kurang representatif sehingga tim pelaksana melanjutkan riset menggunakan metode kuesioner dalam jaringan(web survey).

Responden kuesioner online adalah 68 RS rujukan COVID-19 di Jakarta (jumlah RS berlaku hingga November 2020) dengan tenggang waktu pengisian satu bulan. Respon yang diterima hanya sejumlah 16 kuesioner dengan berbagai tipe kapasitas RS, untuk data sebelum dan selama masa pandemi COVID-19 (Maret-September 2020). Kesulitan pengumpulan data karena penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengondisikan peneliti menghubungi para responden melalui surat (pos dan/atau elektronik) serta telepon. Meskipun telah dihubungi untuk konfirmasi pengisian kuesioner, tanggapan yang diterima sampai batas terakhir pengumpulan data tidak berubah (16 RS).

Kendala terakhir adalah pengolahan dan analisis data. Tim P3KLL bekerja sama dengan peneliti Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai sarana transfer pengetahuan perangkat lunak (software) Spectrum V.5.89 untuk mengolah data lingkungan terkait kesehatan publik. Namun berdasarkan data limbah medis yang bersifat harian, maka software tersebut tidak tepat digunakan. Pengolahan data dialihkan dengan statistik sederhana, yakni proyeksi linier menggunakan limit berdasarkan data kuesioner dan proyeksi penduduk Badan Pusat Statistik (BPS).

Melalui kegiatan penelitian ini, tiga output yang ditetapkan saat perencanaan riset dapat diperoleh. Pertama, bobot LB3 medis sebelum COVID-19 diperoleh sebesar 1,57 kg/tempat tidur/hari, sementara bobot LB3 medis selama penelitian berlangsung sebesar 1,84 kg/tempat tidur/hari. Kedua, proyeksi bobot LB3 medis dilakukan dengan batas jumlah penduduk DKI Jakarta tahun 2020 (data BPS) diasumsikan seluruhnya menderita COVID-19, maka total pasien 9.929.513 jiwa dan limbah infeksius yang dihasilkan sebanyak 18.270.304 kg atau 18.270,304 ton. Ketiga, untuk mengolah 18.270,304 ton limbah diperlukan insinerator rumah sakit berkapasitas 100 kg/jam sebanyak 30.450 unit dengan biaya pengadaan mencapai Rp. 53,3 trilyun.

Dengan segala keterbatasan kondisi, P3KLL bekerja sama dengan peneliti BKKBN telah melaksanakan penelitian terkait pengelolaan LB3 medis infeksius dari pasien COVID-19. Kendala-kendala yang dihadapi selama melakukan riset dengan metode digital tidak menjadikan hambatan, melainkan memacu para peneliti mencari alternatif metode lain yang adaptif dengan kondisi di lapangan. Akhirnya sebagai rekomendasi, metode digital dapat digunakan dalam penelitian sosial humaniora dengan dua syarat, yakni pengawalan ketat terhadap pengumpulan data melalui media digital dan/atau dikombinasikan dengan pengumpulan data lapangan jika situasi memungkinkan.***(MHA)

Comment here