BeritaKerjasama

P3KLL Lakukan Pemantauan POPs, Dukung Kerjasama KLHK dan UNEP Dalam Program GMP II for POPs

GMP 1P3KLL (Serpong, September 2020)_Puslitbang Kualitas Laboratorium Lingkungan (P3KLL) telah melakukan pengambilan sampel Persistent Organic Pollutants (POPs) di udara secara pasif menggunakan alat Passive Air Sampler (PAS) yang ditempatkan di stasiun pemantauan klimatologi – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kemayoran Jakarta pusat. Pengambilan sampel yang dilakukan oleh tim P3KLL didampingi oleh tim dari Direktorat Pengelolaan Bahan berbahaya dan Beracun – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PB3-KLHK) serta tim dari Basel Convention Regional Center for South East Asia (BCRC-SEA).

Sampling POPs ini merupakan bentuk dukungan P3KLL dalam program Global Monitoring Plan II for persistent organic pollutant (GMP II for POPS) “Implementation of the POPS Monitoring Plan in the Asia Region“ yang merupakan kerjasama The United Nations Environment Programme (UNEP) dan KLHK dalam melakukan inventarisasi data POPs di lingkungan yang digunakan untuk menilai efektifitas pelaksanaan konvensi Stockhom.

Pemantauan POPs dalam program GMP diharapkan dapat menghasilkan data pemantauan 23 bahan kimia yang masuk dalam kelompok POPs yang dapat dibandingkan antar wilayah negara peserta (42 negara). Informasi ini dapat digunakan untuk mengetahui tren perubahan konsentrasi POPs di lingkungan serta transportasi di lingkungan regional maupun global. Melalui program GMP diharapkan dapat dikumpulkan data POPs yang dapat diperbandingkan dari semua wilayah di dunia untuk menilai keefektifan konvensi Stockholm dalam meminimalkan paparan bahan berbahaya POPs terhadap manusia dan lingkungan.

Pelaksanaan sampling POPs di udara dalam progam GMP II dilakukan berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh UNEP “Guideline for the passive air samspler (PAS) Management”. Sebanyak delapan buah Polyurethane foam (PUF) yang telah diperlakukan bebas kontaminan dipasang dalam PAS untuk menangkap berbagai jenis POPs di udara. PAS diletakkan di stasiun klimatologi BMKG Kemayoran Jakarta. Jangka waktu pemantauan selama 2 tahun (2018-2020) dengan periode paparan tiap 3 bulan dilakukan pergantian. PUF yang telah dipaparkan di udara selama 3 bulan dikeluarkan dari PAS dan dikirim oleh tim BCRC-SEA ke laboratorium yang ditetapkan UNEP yang berada di Swedia dan Belanda. Laboratorium yang ditunjuk UNEP tersebut melakukan analisis 23 bahan kimia POPs dari semua negara anggota peserta program GMP-II. Bahan kimia POPs berasal dari kelompok pestisida, kelompok bahan kimia untuk industri dan bahan kimia yang diproduksi secara tidak sengaja atau unintensional product.

GMP 3Tim P3kLL juga melakukan pemantauan POPs di air, sedimen dan tanah di wilayah Bogor dan Jakarta. Sampel dari lingkungan tersebut selain dikirim ke laboratorium rujukan UNEP juga dilakukan analisis di laboratorium bahan berbahaya dan beracun P3KLL. Analisis POPs membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten serta peralatan spesifik dengan investasi yang cukup tinggi dalam pengadaan maupun operasionalnya. Oleh karena itu Laboratorium P3KLL hanya melakukan analisis POPs dengan parameter yang hanya bisa dianalisis dengan peralatan Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS).

Parameter tersebut mayoritas dari POPs kelompok pestisida organoklorin seperti senyawa DDT dan turunanya, endrin, dieldrin, aldrin, lindane, chlordane dan sebagainya. Untuk parameter POPs lainya seperti PFOA, PFOS, dioksin tidak dianalisis di laboratorium P3KLL karena keterbatasan ketersediaan peralatan spesifik yang dibutuhkan untuk analisis parameter tersebut misalnya LC-MS, GC-MS/MS, GC-HRMS.

Bahan kimia POPs menjadi perhatian internasional dan masuk dalam perjanjian internasional konvensi Stockholm untuk upaya pengurangan dan penghapusan POPs karena sifatnya yang sangat berbahaya terhadap lingkungan termasuk mahkluk hidup dan manusia. POPs merupakan kelompok senyawa pencemar organik yang dapat bertahan lama di lingkungan, bersifat racun dan dapat ditransportasikan secara global tanpa mengenal batas wilayah dan negara. POPs mengalami akumulasi dan biokonsentrasi dalam tubuh mahkluk hidup. Beberapa senyawa POPs yang masuk dalam tubuh mampu menganggu sistem hormon endokrin, perkembangan syaraf, sistem reproduksi, menurunkan kesuburan, menekan kekebalan tubuh dan karsinogenik.

Hasil pemantauan POPs menunjukkan bahwa beberapa POPs yang sudah dilarang penggunannnya masih ditemukan di media lingkungan. Kondisi ini membuktikan bahwa meskipun POPs sudah dilarang penggunanya namun karena sifat persistensinya maka senyawa tersebut masih ditemukan di lingkungan karena proses degradasi membutuhkan waktu lama. Untuk mengetahui bahwa POPs yang ditemukan di lingkungan tersebut merupakan sisa penggunaan POPs di masa lalu maka pemantauan POPs secara kontinyu penting dilaksanakan agar dapat diperoleh tren keberadaan POPs di lingkungan apakah tren menurun dari tahun ketahun atau bahkan terjadi peningkatan karena adanya masukan baru ke lingkungan akibat penggunaan POPs secara ilegal. Hasil pemantauan ini akan bermanfaat untuk evaluasi efektifitas pelaksanaan Konvensi Stokholm dalam upaya pengurangan atau penghapusan POPs.***(DR/AF).

GMP 4GMP 2 GMP 5