BeritaKerjasama

Pengolahan Air Limbah Domestik Dengan IPAL Sanita, Mendukung Target 100% Akses Sanitasi

Sanita2P3KLL (Serpong, Agustus 2020)_Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL), sebagai pemegang tugas dan fungsi riset bidang lingkungan hidup tingkat nasional, berkontribusi melalui riset teknologi pengolah limbah secara biologi yang dikembangkan berbasis fitoremediasi dan ekosistem lahan basah.

Secara umum teknologi ini dikenal sebagai lahan basah buatan, rawa buatan, constructed wetland, taman sanitasi atau sanitasi taman. P3KLL menggunakan istilah Instalasi Pengolah Air Limbah Sanitasi Taman (IPAL Sanita). Teknologi ini dipilih, diteliti, dan dikembangkan berdasarkan studi ilmiah.

Sanita diterapkan di banyak negara karena memperhitungkan kemampuan penyisihan polutan air, kemampuan ekonomi (misalkan APBD/dana CSR/swadaya), kemampuan operator (penduduk setempat), keterbatasan lahan, ketersediaan listrik, dan fleksibilitas pembangunannya di perkotaan yang padat.

P3KLL menambahkan satu syarat untuk optimalisasi IPAL Sanita, yaitu rekayasa sosial, maksudnya adalah perilaku diri membiasakan pemilahan limbah sebelum dibuang ke saluran limbah atau selokan, jenis yang dipilah antara lain sampah plastik, sampah organik, dan minyak jelantah,” kata Melania Hanny Aryantie, Peneliti Ahli Muda Bidang Manajemen Lingkungan – P3KLL.

Sebagai langkah pamungkas untuk mendukung pemerataan akses sanitasi, P3KLL mengeluarkan rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Depok, Jawa Barat sebagai lokus riset,  pelaksanaan studi di Depok serta pendekatan intens kepada aparatur Pemda membuahkan hasil teradopsinya IPAL Sanita sebagai salah satu teknologi pengolahan air limbah domestik, khususnya untuk permukiman,” tambah Hanny.

Hasil penelitian dan pengembangan P3KLL tersebut tercantum dalam Peraturan Daerah Kota Depok No. 8/2018 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik Pasal 10 Ayat (3) yang berbunyi Sub-sistem pengolahan setempat yang berfungsi untuk menampung dan mengolah Air Limbah Domestik dari non kakus (mandi cuci) dapat dilakukan dengan sanitasi taman (sanita).

Langkah selanjutnya adalah komitmen Pemda Kota Depok untuk mewujudkan pemerataan pengolahan air limbah di wilayahnya. Terutama di lokasi-lokasi yang tidak terjangkau program pemerintah pusat, Pemda dapat berinisiatif membangun IPAL Sanita dengan memberdayakan stakeholders yang sudah terpetakan melalui rekomendasi kebijakan P3KLL. Inisiatif ini dapat disebarluaskan ke daerah lain melalui jejaring organisasi pemerintah kota/kabupaten.

Indonesia mempunyai target memenuhi 100% akses sanitasi di tahun 2019, meskipun dalam Sustainable Development Goals (SDGs) ditetapkan tercapai pada tahun 2030 (Goal 6). Namun, pada tahun 2018 pencapaian nasional masih di angka 74%. Penyebabnya antara lain sistem pengolahan air limbah domestik dan sistem sanitasi perpipaan baru terbangun di 266 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia.***MHA

Sanita1 Sanita3 Sanita4 Sanita5