Fenomena Deposisi Asam di Wilayah Jakarta dan Serpong

Deposam Serpong 1P3KLL (Serpong, 15/12/2017)_Fenomena  Deposisi  Asam khususnya di wilayah Jakarta dan Serpong membutuhkan respon mendesak dari pemerintah untuk menanggulangi masalah pencemaran udara,   namun  demikian  saat ini  kebijakan  dari pemerintah (stakeholder terkait) dalam hal tersebut belum maksimal, khususnya dalam penerapan penggunaan bahan bakar rendah sulfur.

Deposisi asam terjadi akibat pencucian polutan pencemar di atmosfer & merupakan salah satu indikator penurunan kualitas udara. Dampaknya berpengaruh pada kehidupan ekosistem dan bangunan. Akibat deposisi asam dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan kontaminasi lingkungan, salah satunya akan menimbulkan korosi pada konstruksi bangunan dan infrastruktur. Peningkatan emisi dari aktivitas energi yg menghasilkan gas-gas SO2 dan NOx diwilayah perkotaan berpotensi menyebabkan deposisi asam.

Berdasarkan    pemantauan    BMKG   Jakarta  dan P3KLL Serpong, nilai pH air hujan periode th. 2001-2006 di Jakarta secara fluktuatif cenderung menunjukkan adanya penurunan setiap tahun, berkisar antara 5,42 – 4,31 kemudian pada periode tahun 2007-2015 relatif stabil pada kisaran pH 4,63 – 4,84. pH air hujan yang terpantau diwilayah Serpong pada periode tahun 2000-2015 berada pada kisaran 4,59 – 5,14. Kondisi pH tersebut berada dibawah batas pH air hujan normal (pH 5,6) yang mengindikasikan terjadinya deposisi asam di Jakarta dan Serpong.

Keasaman  air  hujan salah satunya diakibatkan oleh SO2 dan NOx hasil emisi dari kegiatan industri dan transportasi. Sektor pengguna BBM terbesar adalah transportasi (65%), pembangkit listrik (16%), industri (10%), dan sektor lainnya (9%) (Pertamina, 2012). Kandungan sulfur dalam bahan bakar diesel  di Indonesia secara umum berkisar antara 2000-3000 ppm, yang dikonsumsi oleh sekitar 97% penduduk Indonesia (MenLH, 2014).

Pada tahun 2015 BPH Migas menyatakan bahwa penggunaan bahan bakar solar dari 13 juta Kl, dimana sebanyak 96% dialokasikan untuk transportasi darat. Kontribusi penggunaan bahan bakar rendah sulfur dan biofuel yang lebih ramah lingkungan mendukung penurunan emisi sulfur dan menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak deposisi asam. Dengan penerapan program ini diharapkan adanya pengaruh nyata bagi pengurangan sumber pencemar deposisi asam akibat dari pembakaran bahan bakar fosil.

“Deposisi Asam adalah Fenomena pencemaran udara akibat aktivitas energi yang mengemisikan bahan pencemar gas utama seperti SO2 & NOx Deposisi Asam juga bisa diartikan terdeposisinya asam-asam yang ada di atmosfer, baik dalam bentuk gas maupun cairan ke tanah, sungai, hutan dan tempat lainnya melalui air hujan, kabut, embun, salju, dan aerosol yang jatuh bersama angin,” demikian kutipan dari peneliti P3KLL pada Laporan Penelitian & Pengembangan Deposisi Asam Tahun 2017.

Di Tahun 2017 Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) melaksanakan pengembangan Aplikasi Formulasi Tingkat Pencemaran Kualitas Udara Berdasarkan Parameter Deposisi  Asam. Kegiatan ini bertujan untuk Mengetahui karakteristik data pencemar dari beberapa parameter deposisi asam yang berurutan setiap tahun di Serpong, Jakarta, dan Bogor serta melihat pengaruh deposisi asam terhadap populasi ekosistem perairan. Selain itu bertujuan untuk Melihat kesesuaian data tersedia dari parameter deposisi kering untuk aplikasi formulasi tingkat pencemaran udara berdasarkan parameter deposisi asam. Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari penelitian P3KLL tahun 2016 yang berjudul Tingkat Pencemaran Udara Berdasarkan Parameter Deposisi Asam.***AF

Deposam Bogor 1 Siklus Deposisi Asam Deposam Serpong 2

Comment here