P3KLL Siap Meningkatkan Kapasitas Laboratorium Lingkungan di Wilayah Indonesia Timur

Artikel anwar 2017P3KLL (Serpong, 01/03/2017)_Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) yang memiliki salah satu fungsi sebagai laboratorium lingkungan rujukan nasional menyatakan kesiapannya untuk mendukung percepatan terwujudnya akreditasi laboratorium lingkungan di Provinsi dan Kabupaten/kota Wilayah Timur Indonesia. Hal ini terungkap saat Rapat  Koordinasi  Teknis  Pembinaan  Laboratorium  Lingkungan Wilayah Indonesia Timur Tahun 2016 yang diselenggarakan di Manado, Senin 14 November 2016. “Salah satu arah kebijakan pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan tahun 2015 – 2019 adalah perbaikan kualitas lingkungan hidup yang diindikasikan melalui indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) dari 66,5 menjadi 68,5,”kata Wahyu Warjaka, Kepala P3KLL. Lebih lanjut Wahyu menyatakan bahwa peningkatan nilai IKLH tersebut akan memberikan implikasi kebutuhkan data pemantauan lingkungan yang valid yang dihasilkan oleh laboratorium lingkungan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Laboratorium lingkungan adalah laboratorium yang memiliki kompeten dengan adanya bukti akreditasi berdasarkan ISO/IEC 17025 dan registrasi KLHK sesuai PERMENLH No.06 Tahun 2009. “Namun kenyataannya, jumlah laboratorium lingkungan yang teregistrasi saat ini hanya 85 di seluruh Indonesia,” kata Wahyu. Laboratorium lingkungan teregistrasi tersebut tersebar tidak merata, dimana 55 laboratorium di Jawa, masing – masing memiliki 12 laboratorium di Sumatera dan Kalimantan, 4 laboratorium di Sulawesi, Papua dan Nusa Tenggara Barat hanya memiliki masing – masing 1 laboratorium. “Sehubungan dengan hal tersebut laboratorium pengujian di wilayah Indonesia timur perlu didorong menuju laboratorium lingkungan yang terakreditasi dan teregistrasi agar kompeten dalam menghasilkan data kualitas lingkungan yang valid,”tegas Wahyu.

Di sisi lain, Luthfi Sulandjana, Kepala Bidang Pengelolaan Laboratorium Lingkungan P3KLL berkomitmen melakukan percepatan terwujudnya laboratorium terakreditasi untuk parameter kualitas lingkungan yang berada di provinsi dan kabupaten/kota Wilayah Timur Indonesia. “Hal terpenting untuk mencapai terwujudnya akreditasi laboratorium adalah komitmen seluruh personil di semua tingkatan organisasi laboratorium,” kata Lutfi. “Komitmen bukan berarti sekedar kesepakatan tertulis, namun membutuhkan dukungan dana, motivasi dan kerjasama tim disetiap tahapan proses akreditasi,”tambahnya.

Lutfi menegaskan bahwa  P3KLL sebagai instansi pembina laboratorium lingkungan harus mampu mendorong dan mendukung terwujudnya laboratorium terakreditasi di Wilayah Indonesia Timur melalui bimbingan teknis. Untuk mewujudkan hal tersebut, Lutfi berharap bahwa peran Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Wilayah Sulawesi, Maluku serta Papua dituntut lebih aktif dalam mendorong laboratorium lingkungan di wilayahnya untuk dapat terakreditasi dan teregistrasi. Hal ini didasarkan pada PERMENLHK No.P.52/MENLHK/Setjen/Kum.1/6/2016 yang menyatakan bahwa P3E harus meningkatkan kemampuan para pihak dalam penyediaan data kualitas lingkungan yang valid melalui pendampingan dan bimbingan teknis serta mendorong para pihak dalam pengembangan laboratorium.

Rapat yang diikuti oleh kurang lebih 70 peserta tersebut menghasilkan kesepakan untuk membentuk pilot project percepatan proses akreditasi dan registrasi laboratorium lingkungan berdasarkan SNI ISO/IEC 17025: 2008 dan PERMENLH No. 06 Tahun 2009. Kriteria laboratorium daerah yang mendapatkan pilot project adalah, legalitas laboratorium dapat dipertangggungjawabkan, ketersediaanan sumber daya laboratorium memadai, yang meliputi; bangunan laboratorium, jumlah dan kompetensi sumber daya manusia, peralatan pengambilan sampel dan pengujian parameter kualitas lingkungan, menerapkan metode pengujian sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) atau metode standar lainnya, telah mengikuti uji profisiensi parameter kualitas lingkungan dengan hasil memuaskan, dan memiliki dokumentasi sistem manajemen mutu sesuai prinsip SNI ISO/IEC 17025: 2008.

Calon pilot project yang terpilih berdasarkan kesepakatan rapat koordinasi teknis tersebut adalah masing – masing 2 laboratorium milik Badan Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota dari 11 Provinsi di Wilayah Indonesia Timur. Namun demikian, disebabkan keterbatasan anggaran tahun 2017 yang tersedia di P3KLL – KLHK, maka direncanakan 3 laboratorium dari 22 calon tersebut mendapat pendampingan teknis sebagai pilot project. Adapun pemilihan 3 laboratorium sebagai pilot project P3KLL tersebut akan ditentukan lebih lanjut. “Terpilihnya tiga laboratorium tersebut diharapkan di tahun 2018, Wilayah Indonesia Timur menambah laboratorium lingkungan yang teregistrasi sehingga dapat mendukung pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup,”harap Lutfi

***AH

Comment here