Akumulasi Timbal Dalam Tubuh Mengakibatkan IQ Menurun, Penyakit Syaraf dan Penyakit Lainnya

Picture 052P3KLL (Serpong, 22/9/2016)_Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) telah melakukan pengambilan sampel darah anak-anak  SD Al Hidayah Kecamatan Polonia Kota Medan pada tanggal 8 September 2016. Pengambilan sampel dilakukan pada anak-anak SD kelas 2, 3 dan 4. Dengan jumlah responden 60 orang anak. Kegiatan ini bertujuan untuk  mengetahui dampak pencemaran udara terhadap tingkat kesehatan manusia khususnya paparan timbal (Pb) di dalam tubuh manusia.  Anak-anak merupakan sampel paling rentan dibandingkan orang dewasa, karena Pb pada anak-anak umumnya masih terdeposit dalam darah, sedangkan pada orang dewasa Pb terdeposit dalam tulang sehingga pengambilan sampel sulit dilakukan.

IMG_6683Pelaksanaan pengambilan darah ini dibantu oleh tenaga medis (dokter dan perawat) Puskesmas Kecamatan Polonia, FKM Universitas Indonesia dan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB). Pada acara tersebut hadir juga Dinas Kesehatan Kota Medan, Dinas Pendidikan Kota Medan, BLH Kota Medan, BLH Provinsi Sumatera Utara.  Pengukuran Pb dalam darah menggunakan alat Leadcare II.  Data yang dihasilkan masih dalam proses verifikasi.  Menurut standar WHO baku mutu Pb dalam darah tidak melebihi 10 µg/dL.

Timbal (Pb) adalah salah satu logam berat yang sangat berbahaya. Akumulasi timbal di dalam tubuh manusia mengakibatkan gangguan pada otak dan ginjal, serta kemunduran mental pada anak yang sedang tumbuh.  Menurut penelitian WHO keracunan timbal pada ibu hamil bisa mengakibatkan bayi lahir prematur, keguguran, atau meninggal.  Sedangkan pada anak-anak akan berdampak negatif pada kecerdasan. Anak menjadi tidak konsentrasi pada pelajaran, IQ turun drastis, gangguan penyakit saraf, hipertensi, gangguan pertumbuhan otak, dan sesak napas. Pb merusak berbagai organ tubuh manusia, terutama sistem syaraf, sistem pembentukan darah, ginjal, sistem jantung dan sistem reproduksi (EPA 1986).

Picture 083Pb masuk ke tubuh manusia melalui pernafasan, diserap dan diedarkan melalui darah dan terakumulasi dalam hati, pankreas dan tulang. Pb yang tertelan bersama makanan oleh orang dewasa terserap hanya 5-10%, sedangkan pada anak-anak hampir mencapai 50%. Bila Pb terakumulasi dalam tubuh dapat meracuni atau merusak fungsi mental, perilaku, anemia dan pada tingkat keracunan yang lebih berat dapat menyebabkan muntah-muntah dan kerusakan yang serius pada sistem syaraf. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap Pb karena sistem otak dan syarafnya belum berkembang penuh, sehingga penyerapan Pb dibandingkan proporsi berat tubuh jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Ada hubungan yang signifikan antara keberadaan Pb dalam darah dengan tingkat kecerdasan pada anak.

Diharapkan informasi yang diperoleh nantinya dapat mengurangi risiko dampak pencemaran udara Pb terhadap kesehatan anak-anak generasi mendatang, dengan menyusun strategi dan skenario pengurangan dampak untuk ditindaklanjuti.

***BH

Picture 076 IMG_6609 IMG_6612 Picture 072

Comment here