RAPAT KERJA TEKNIS PEMANTAUAN LOGAM BERAT DI BEBERAPA KOTA DI INDONESIA.

Tangerang Selatan, 26 November 2013

raker logam-3

Permasalahan pencemaran udara semakin meningkat dan merupakan permasalahan yang serius di hampir seluruh kota besar di Indonesia terutama disetiap ibukota provinsi. Pencemaran udara yang terjadi di perkotaan terutama berasal dari emisi yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor, industri dan kegiatan rumah tangga. Salah satu bahan pencemar atau parameter kualitas udara yang menjadi indikator pencemaran udara di perkotaan adalah  partikulat debu atau debu yang melayang-layang di udara seperti PM2,5 dan PM10.

Pada umumnya partikulat debu yang melayang di udara mengandung beberapa pencemar salah satunya adalah logam berat. Dalam rangka menindaklanjuti Kesepakatan bersama antara Menteri Lingkungan Hidup dengan Kepala BATAN serta pelaksanaan kerjasama antara Deputi Bidang Penelitian Dasar dan Terapan BATAN dan Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas tentang pengkajian polusi udara dan studi dampaknya di Indonesia melalui identifikasi dan karakterisasi sumber pencemar udara khususnya logam berat telah dilaksanakan pemantauan karakterisasi logam berat di udara ambien.

Pelaksanaan pemantauan logam berat di udara ambien telah melibatkan Pusat Pengelolaan Ekoregion, beberapa BLH Provinsi dan BLH Kabupaten/kota dimana peralatan pemantau logam berat di udara ambien dipasang. Dalam rangka koordinasi antara pelaksana pemantauan di daerah dengan PUSARPEDAL-KLH dan PTNBR BATAN, pada tanggal 20 Nopember 2013 telah dilaksanakan Rapat Kerja Teknis Pemantauan Logam Berat yang dihadiri Deputi Bidang Penelitian Dasar dan Terapan BATAN dan Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas serta para pelaksana pemantauan dari 15 kota.

Dalam Rakernis tersebut telah disepakati keberlanjutan pemantauan logam berat kedepan serta penambahan lokasiraker logam-2 pemantauan sehingga mencakup ke seluruh provinsi di Indonesia.Dr. Esrom Hamonangan dari Pusarpedal, selaku ketua penyelenggara mengharapkan bahwa kegiatan ini dapat meningkatkan komitmen dari semua instansi terkait dalam pemantauan udara untuk mewujudkan kualitas udara bersih di Indonesia. Dr. Anhar Riza Antariksawan, Deputi PDT-BATAN, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan kerjasama ini. Koordinasi dan kontinuitas suatu kerja sama MoU bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Beliau juga bersyukur bahwa BATAN dapat mengkontribusikan IPTEK nuklir dalam pemantauan kualitas udara ambien di Indonesia dan berharap bahwa kegiatan ini dapat menghasilkan sesuatu yang baik secara ilmiah.

Dr. Henry Bastaman,MES., Deputi VII-KLH  Bidang Pembinaan Sarana Teknik Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas, dalam sambutan dan sekaligus membuka acara rakernis ini memberikan pengarahan dan pencerahan pada peserta bahwa permasalahan lingkungan yang kompleks memerlukan kontribusi  dari banyak pihak terkait. Teknologi nuklir sendiri dapat dimanfaatkan untuk lingkungan. Sebagai gambaran kegiatan pemantauan kualitas udara di kota-kota besar di Indonesia sudah ada sejak tahun 1999 dan beroperasi secara real time menggunakan AQMS (Air Quality Monitoring System) namun hal ini memerlukan investasi yang tidak murah serta memiliki parameter yang terbatas, sehingga perlu dipikirkan bagaimana memantau kualitas udara dengan biaya yang lebih murah, efisien, akurasi dan presisi dapat dipertanggung jawabkan. Namun kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem pemantauan harus kita optimalkan untuk masing-masing sistem dapat saling melengkapi. Diharapkan dengan pemanfaatan teknologi nuklir sistem ini dapat saling dilengkapi, demikian harapan Beliau.  Kedepannya, 15 kota besar yang telah terlibat dalam kegiatan ini dapat mempertahankan kinerjanya dan diharapkan peran serta kota-kota lainnya dalam kegiatan ini. Data pemantauan kualitas udara ini akan dimanfaatkan untuk merevisi baku mutu udara ambien dalam PP No. 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara.

Acara Rakernis ini dilanjutkan dengan evaluasi pelaksanaan dan hasil pemantauan dan kajian logam berat di udara ambien di 15 kota besar yang disampaikan oleh Ir Hari Wahyudi, Kepala Pusarpedal-KLH, serta analisis reseptor model kecenderungan pencemaran logam berat di 15 kota di Indonesia oleh Prof. Dr. Muhayatun, MT dari BATAN. Diskusi dan Rencana Kerja tahun mendatang juga menjadi bahasan dalam Rakernis ini.

(RM)

Comment here