Pelayanan Jasa

Perpustakaan

TENTANG MERKURI

INFO TERBARU

  • My Stats
  • Flag Counter
9 Juli 2020

Mengenal Lebih Dekat Merkuri Bahaya dan Solusinya

CoverP3KLL (Serpong, Juli 2020)_Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) kembali menggelar webinar, Selasa, (7/7/2020) menghadirkan narasumber dari Guru besar IPB, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Tenaga Ahli Menteri LHK pada Dirjen PSLB3 dan Internal P3KLL, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta dan Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), dengan mengangkat tema “Mengenal Lebih Dekat Merkuri Bahaya dan Solusinya”.

“Dalam hal mendukung bidang penelitian dan pemantauan, maka Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menandatangani KepMen No.340 tentang Komite Penetitian dan Pemantauan Merkuri (KPPM) di Indonesia, P3KLL berperan sebagai Sekretariat KPPM. Di tahun ini P3KLL sedang membangun Laboratorium Merkuri dalam rangka mendukung Penetitian dan Pemantauan yang dibentuk berdasarkan dari KepMen No.340 tahun 2018 dan Perpres No.21 tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RANPPM) dengan fokus pada 4 bidang prioritas (dengan target) diantaranya; bidang Pertambangan Emas Skala Kecil atau PESK (100%; thn 2025), bidang Kesehatan (100%; thn 2020), bidang Manufaktur (50%; thn 2030) dan bidang Energi (33,2%; thn 2030),” sebagaimana dijelaskan Kepala P3KLL, Herman Hermawan saat membuka acara webinar.

“Ibu Menteri LHK sangat konsen dengan masalah Merkuri yang sangat berdampak terhadap lingkungan maupun Kesehatan, penggunaan Merkuri di Indonesia sangat masif sekitar 700 ton merkuri ilegal masuk ke Indonesia dari Singapur dan juga adanya pertambangan Merkuri yang juga ilegal di Indonesia sehingga perdagangan Merkuri ilegal di Indonesia menghasilkan export ilegal Merkuri sekitar 152 ton pertahun,”ujar Tenaga Ahli Menteri LHK, dr. Jossep William, pada kesempatan tersebut.

Terkait itu ”Dukungan Badan POM Dalam Aksi Nasional Kosmetik Bebas Merkuri”, narasumber lainnya, Tita Nursjafrida selaku Kasubdit Pengawasan Sarana Kosmetik, menjelaskan Peraturan Badan POM NO 23 Tahun 2019 Tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika bahwa Merkuri termasuk ke dalam daftar bahan yang tidak diizinkan dalam kosmetika.

“Merkuri dalam kosmetik bukan berdampak efek samping tapi mengakibatkan efek langsung terhadap kesehatan penggunannya sehingga harus dilakukan aksi nasional untuk masalah tersebut untuk jangka pendek menengah dan jangka panjang sehingga pada tahun 2022 akan dilakukan rapid test pada produk-produk yang mengandung merkuri,” jelasTita.

“Temuan Merkuri dalam Kosmetik dari tahun 2015 sampai dengan Juni 2020 berdasarkan hasil penelitian berjumlah 19 dari lokal dan 113 dari impor secara ilegal yang kebanyakan beasal dari China dan Taiwan, sehingga. Upaya BPOM dalam mendukung aksi nasional kosmetik bebas merkuri diantaranya Thiomersal dan Phenilmercuric sebagai bahan pengawet dalam kosmetik dihilangkan; Pengawasan Kosmetik bersama lintas sektor terkait seperti Bea Cukai, Bareskrim, Kemenperin, Kemendag, Kemenkes, dan Bagian Penindakan; Kampanye cerdas penggunaan kosmetik aman kepada Generasi Milenial dan Tim Penggerak PKK; Pencanangan Sentra Industri Kecil Menengah Kosmetik dengan Pendampingan UMKM Kosmetik berdaya saing tinggi tanpa Merkuri,” tambahnya.

Tentang “Bahaya Merkuri pada Lingkungan dan Manusia”, Prof. Etty Riani, Guru Besar MSP Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Univesity bidang kepakaran Eco Psiologi dan Eco Toksikologi mengatakan Merikuri (Hg) merupakan logam yang sangat istimewa karena pada suhu 25oC dapat berbentuk cair dan paling beracun diantara logam-logam lainnya.”

Bagaimana cara menegah pencemaran Merkuri, diantaranya Efisienkan Sumber Daya, Lakukan teknologi bersih, Minimalkan limbah, Limbah dijadikan sumberdaya ekonomi, Kajian AMDAL yang baik & benar, implemetasi dari RKL-RPL≈KLHS, Pegang Teguh perencanaan memegang teguh komitmen dan implementasi apa yang sudah direncankan.. oleh karena itu jangan sampai kasus Minamata yang ke dua terjadi Indonesia,” tutup prof. Etty.

Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan dari P3KLL, Yunesfi Syofyan dalam materinya “Merkuri Di Sekitar Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK)” memaparkan bahwa P3KLL sejak tahun 90an telah melakukan pemantauan dan kajian terhadap keberadaan Merkuri PESK diantaranya di sungai Kahayan, Kapuas di Kalimantan, kemudian sungai Kampar dan Dharmasraya di Sumatera kemudian di Tatelu Minahasa Sulawesi dan sebagainya, tujuan dari kegiatn P3KLL untuk mengumpulkan data dan informasi cemaran merkuri pada beberapa media lingkungan  di sekitar wilayah PESK.”

Simpulkan paparannya Yunesfi diantaranya “Terdapat masalah sosial ekonomi, kesehatan, dan lingkungan yang dikategorikan ancaman bagi warga masyarakat pada jangka panjang; Ketidaktahuan sebagian besar masyarakat terhadap bahaya merkuri bagi kesehatan fisik dan intelegensia menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam penanganan lebih lanjut serta mitigasi kesehatan masyarakat melalui kajian multidisiplin dan integratif; Diperlukan tahapan penelitian yang lebih sistematis sehingga dapat menentukan strategi yang efektif dan efisien dalam penanganan area yang terpapar merkuri.” pungkasnya.

Sebagai informasi, webinar seri yang ke 5 yang diselenggarakan P3KLL ini diikuti oleh 394 peserta diantaranya dari instansi pemerintah, swasta, unversitas, pemerhati lingkungan hidup dan internal KLHK serta masyarakat umum.***AF.