Pelayanan Jasa

Perpustakaan

TENTANG MERKURI

INFO TERBARU

  • My Stats
  • Flag Counter
17 Juni 2020

Rekam Jejak Kualitas Udara di Ibukota Negara dan Sekitarnya

16 Jun McP3KLL (Serpong, Juni 2020)_Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) menyelenggarakan Webinar dengan tema “Rekam Jejak Kualitas Udara di Ibukota Negara dan Sekitarnya Pada Masa Pandemi Covid-19” Selasa, (16/6/2020).

Pada sesi pembuka webinar, Kepala P3KLL, Herman Hermawan menjelaskan bahwa “Jejak karbon dan jejak ekologi mempengaruhi pola hidup kita terkait erat dengan pencemaran, Jejak karbon adalah jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepas oleh pribadi atau kelompok dalam melakukan kegiatan di periode tertentu.”

“Setiap kegiatan yang kita lakukan dan setiap barang-barang yang kita gunakan juga yang dikonsumsi meninggalkan jejak karbon di atmosfer jauh setelah kegiatan dilakukan dan memberikan pengaruh yang berdampak terhadap lingkungan seperti meningkatnya gas rumah kaca yang memicu pemanasan global,” kata Herman.

Herman H 16 Jul“Hasil penelitian menunjukan bahwa karbon dioksida mampu bertahan rata-rata 70 tahun di atmosfer sedangkan metan mampu bertahan 12 tahun. Di level internasional kita memiliki suatu komitmen untuk mengurangi gas rumah kaca di atmosfer untuk menyelamatkan bumi dalam menguruangi pemanasan global,”jelas Herman.

Dalam materi “Rekam Jejak Kualitas Udara di Ibukota Negara dan Sekitarnya Pada Masa Pandemi Covid-19” yang dipaparkan oleh Yusiono A. Supalal (Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta) mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menyampaikan bahwa “Sumber pencemaran udara di DKI Jakarta secara dominasi berasal dari sumber yang bergerak (transportasi darat) yang mencermarkan black carbon sebesar 75%.”

“DKI Jakarta menginisiasi 7 Solusi untuk mengatasi polusi pencemaran Udara di Jakarta diantaranya: Tidak ada lagi angkutan umum yang berusia diatas 10 tahun dan tidak lulus uji emisi pada tahun 2020, Mendorong partisipasi warga dalam pengendalian kualitas udara melalui pembatasan kendaraan pribadi bermotor, Pada tahun 2025 tidak ada lagi kendaraan pribadi berusia diatas 10 tahun yang melintasi wilayah DKI Jakarta, Mendorong peralihan ke moda transportasi umum dan meningkatkan kenyamanan berjalan kaki, Mewajibkan industry memasang alat monitoring niali buangan asap industri, mengoptimalkan penghijauan pada sarana dan prasarana public sarta mendorong adopsi prinsip Green building, Merintis peralihan ke energy terbarukan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil,” kata Yusiono.

Terkait “Simulasi Jejak Karbon Selama Pandemi Covid-19 di Indonesia”, Pemateri P3KLL, Rina Aprishanty (Fungsional Pengendalian Dampak Lingkungan) menyampaikan bahwa “Pola hidup kita berkaitan erat dengan pencemaran udara diantaranya pola penggunaan air, pola transportasi, pola rekreasi, pola makan, pola tempat tinggal, pola penggunaan listrik, pola penggunaan pakaian, pola produksi limbah rumah tangga.”

“P3KLL telah melakukan kajian-kajian terkait kualitas udara diantaranya: Kajian partikulat (PM10,PM2,5) di udara ambien di 17 kota di Indonesia kerjasama dengan Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan Badan Tenaga Atom Nasional (PSTNT BATAN) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kajian logam berat di udara ambien kerjasama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Kajian timbel (Pb) dalam darah anak² sebagai akibat tingginya Pb di Udara ambien di sekitar lead smelter kerjasama  dengan FKM UI dan Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), Pemantauan Deposisi Asam kerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Pemantauan Merkuri di air hujan kerjasama dengan DirJen Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3), Studi kandungan Merkuri di beberapa media lingkungan di Penambangan Emas Skala Kecil (PESK) kerjasama dengan PSLB3, World Bank dan Nexus.”

Pemateri dari KPBB, Alfred Sitorus (Program Manager KPBB) memaparkan materi ”Kegiatan Distribusi dan Pengolahan Aki Bekas Saat Pandemi Covid-19”. Alfred mengatakan, “Selain dari sumber yang bergerak, sumber pencemaran udara di Jabodetabek lainnya berasal dari proses peleburan aki bekas secara illegal.”

“Dampak dari pencemaran daur ulang Aki Bekas sangatlah berbahaya bagi Kesehatan Anak-anak, Remaja, Dewasa, selain itu dapat menyebabkan ISPA, pneumonia, COPD, bronchitis, astma, jantung coroner dan pemicu kanker,” kata Alfred.

“Selama masa pandemi Covid-19 proses distribusi dan pengolahan aki bekas di smelter illegal masih terus berlangsung dan bahkan dibeberapa lokasi peleburan illegal praktik ini semakin marak, sehingga harus diformulasikan regulasi yang mampu membina jalur distribusi dan pengolahan aki bekas sehingga prosesnya sesuai dengan kaidah perlindungan lingkungan. Kami sudah menyampaikan draft Permen LH Pengelolaan Aki Bekas yang Ramah Lingkungan sejak 2014,”pungkas Alfred.

Webinar P3KLL yang ke dua kalinya ini dihadiri 554 peserta dari Instansi Pemerintah, BMKG, LIPI, DLH Kabupaten Kota, Internal KLHK, unsur pribadi dan swasta, Universitas dan umum.***AF

Yusiono Rina A ALfred