Pelayanan Jasa

Perpustakaan

TENTANG MERKURI

INFO TERBARU

  • My Stats
  • Flag Counter
29 April 2020

P3KLL Monitoring Tingkat Pencemaran Udara dan Pengaruh Deposisi Asam Terhadap Lingkungan

Gambar Deposisi AsamP3KLL (Serpong, April 2020)_Tahun 2017 lalu P3KLL melaksanakan pengembangan Integratif sub kegiatan Aplikasi formula tingkat pencemaran udara berdasarkan deposisi asam. kegiatan ini bertujuan untuk monitoring kesesuaian data tersedia dari parameter deposisi kering untuk aplikasi formulasi tingkat pencemaran udara berdasarkan parameter deposisi asam. Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari penelitian P3KLL tahun 2016 yang berjudul Tingkat Pencemaran Udara Berdasarkan Parameter Deposisi Asam.

Selain itu Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengetahui karakteristik data pencemar dari beberapa parameter deposisi asam yang berurutan setiap tahun di Serpong, Jakarta, dan Bogor serta melihat pengaruh deposisi asam terhadap populasi ekosistem perairan.

Pada tahun 2015 BPH Migas menyatakan bahwa penggunaan bahan bakar solar dari 13 juta Kl, dimana sebanyak 96% dialokasikan untuk transportasi darat. Kontribusi penggunaan bahan bakar rendah sulfur dan biofuel yang lebih ramah lingkungan mendukung penurunan emisi sulfur dan menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak deposisi asam. Dengan penerapan program ini diharapkan adanya pengaruh nyata bagi pengurangan sumber pencemar deposisi asam akibat dari pembakaran bahan bakar fosil.

Terkait fenomena deposisi asam yang terjadi, dibutuhkan respon mendesak dari pemerintah dalam menanggulangi masalah pencemaran udara. Menurut peneliti P3KLL, saat ini kebijakan pemerintah (stakeholder terkait) dalam hal tersebut belum maksimal, khususnya dalam penerapan penggunaan bahan bakar rendah sulfur.

Deposisi asam merupakan polusi udara yang disebabkan oleh adanya gas oksida-oksida sulfur (SOx) dan oksida-oksida Nitrogen (NOx) yang turun ke permukaan bumi, Deposisi Asam juga bisa diartikan terdeposisinya asam-asam yang ada di atmosfer, baik dalam bentuk gas maupun cairan ke tanah, sungai, hutan dan tempat lainnya melalui air hujan, kabut, embun, salju, dan aerosol yang jatuh bersama angin, dampak negatif polusi ini dirasakan baik pada ekosistem daratan (terestrial) maupun ekosistem perairan (akuatik) dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan kontaminasi lingkungan.

Pencemar berupa gas SOx dan NOx yang berasal dari proses pembakaran bahan bakar fo sil di ketel uap (boiler) industri, pembangkit listrik tenaga uap, dan dari gas buang kendaraan bermotor; lepas ke atmosfer membentuk deposisi kering. Gas-gas tersebut bereaksi dengan uap air, oksigen, atau partikel debu di atmosfer dan deng an bantuan sinar matahari akan mempercepat reaksi terbentuknya asam sulfat dan asam nitrat. Asam-asam yang terbentuk di atmosfer tersebut bersama air hujan, salju es ataupun kabut jatuh ke bumi dalam bentuk hujan asam atau deposisi basah.

Deposisi 3 Deposisi 1 Deposisi 2